Syarat Baptisan

Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: "Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. (Matius 3:7-8)

Tidak semua orang yang mau dibaptis boleh untuk dibaptis. Ada syarat yang harus dipenuhi sebelum orang tersebut dibaptis. Syarat utama baptisan yaitu: bertobat. Kalau orang tidak bertobat, dia tidak boleh dibaptis. Di atas juga sudah dibahas bahwa baptisan adalah penguburan manusia lama. Tentunya kita tidak boleh mengubur orang yang masih hidup.

Syarat lain untuk dibaptis yang tidak terpisahkan dari pertobatan yaitu: percaya kepada Yesus.

Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: "Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?" [Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah."] (Kisah 8:36-37)

Karena kedua syarat ini, maka gereja perlu mewawancarai dulu orang yang mau dibaptis. Wawancara dimaksud untuk memastikan apakah orang tersebut sudah memenuhi ke-dua syarat ini. "Bertobat" adalah syarat utama.1)

Selanjutnya, hal yang penting dari baptisan yaitu: Kehendak untuk dibaptis harus berasal dari orang itu sendiri, bukan dipaksa orang lain. Boleh saja orang lain menghimbau atau menganjurkan orang lain untuk dibaptis, tapi tetap orang tadi yang harus mengambil keputusan dan bukan paksaan. Dalam hal ini, orang tua harus bijaksana, jangan memaksa anak sendiri untuk dibaptis. Kalau anak tersebut dibaptis karena kehendak orang tua, bukan karena bertobat dan bukan kemauan diri sendiri, maka di hari kemudian, setelah dia sudah bertobat sungguh-sungguh dan mengerti arti baptisan, bisa jadi dia merasa tertuduh akan baptisan yang lalu. Untuk kasus ini, kalau dia tetap merasa tertuduh, maka lebih baik dia dibaptis ulang. "Baptisan" yang dahulu dianggap tidak sah dan sekarang memberi diri untuk dibaptis yang benar.

-------------------------
1) Jika orang tersebut sudah bertobat namun belum mengerti tentang Yesus, maka wawancara tersebut sekaligus sebagai sarana untuk menginjili orang ini. Pewawancara tinggal membimbing orang ini kepada Yesus, sampai dia mau percaya dan menerima Yesus. Hal seperti ini terjadi beberapa kali dalam Alkitab. Salah satunya yaitu yang di catat di Kis. 10, tentang Kornelius. Kornelius adalah seorang yang takut akan Allah, tapi dia belum mengerti tentang Yesus. Malaikat Tuhan datang ke Kornelius dan menyuruh Kornelius untuk memanggil Petrus supaya Petrus menjelaskan kepada Kornelius dan keluarganya tentang Yesus. Baru setelah itu Kornelius dan keluarganya dibaptis.
Kasus lain yang sejenis dicatat di Kis. 16, tentang seorang kepala penjara di Filipi. Dalam keadaan putus asa, dia bertanya kepada Paulus dan Silas, "Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?" Kepala penjara ini merasa habis akal dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Memanfaatkan kondisi ini, Paulus langsung membimbing dia dan keluarganya untuk percaya kepada Yesus, dan akhirnya kepala penjara tersebut dan keluarganya memberi diri dibaptis.
Hal lain yang merupakan kebalikan dari kasus-kasus di atas yaitu orang yang mengaku bahwa dia sudah "percaya" tapi dari hasil pengamatan dia sebenarnya belum bertobat. Untuk kasus seperti ini, gereja harus berhati-hati. Bisa saja seorang sanggup menjawab semua pertanyaan tentang Yesus dengan benar, tapi sebenarnya dia belum percaya kepada Yesus. Untuk ini gereja harus menolak permintaan orang tersebut untuk dibaptis.


Kembali ke: [Daftar isi] [Dasar Kekristenan] [ke Homepage]