Metode Penginjilan Pribadi?

Paul Cho Yonggi mengatakan, "Gereja kami tidak menganut penginjilan yang sifatnya dari rumah ke rumah. Dalam banyak hal cara ini merupakan penginjilan konfrontasi; cara ini mengundang banyak pertentangan."1 Meskipun Paul Cho Yonggi tidak menyangkal bahwa ada orang-orang yang diselamatkan dengan cara penginjilan demikian, namun dia mengatakan: "Pada umumnya, penginjilan dari rumah ke rumah menjadikan orang-orang yang bersaksi itu kecewa karena hasilnya rata-rata tidak sepadan dengan apa yang mereka lakukan atau dengan kata lain kurang berhasil. Gereja kami melaksanakan penginjilan dengan cara mengadakan kelompok sel. Setiap kelompok sel menjadi pusat kebangunan rohani bagi tetangga di sekitarnya, sebab dalam kelompok itu terdapat kehidupan yang sebenarnya."2

Kita, orang Kristen di Indonesia, banyak mendapat metode penginjilan dari orang Amerika. Padahal jelas kita tahu bahwa budaya Amerika sangat berbeda dengan budaya Indonesia. Salah satu metode penginjilan yang mereka perkenalkan kepada kita yaitu Penginjilan Pribadi, baik yang dilakukan dari rumah ke rumah maupun di tempat-tempat umum. Orang Kristen disuruh untuk menginjili orang yang tidak dikenal dan jika perlu langsung menantang orang tersebut untuk menerima Yesus.

Sejak saya kuliah di IPB Bogor (tahun 1981), saya mengenal metode penginjilan pribadi ini. Karena banyak buku dan hamba Tuhan yang menganjurkan metode ini, sayapun mempelajari dan mempraktekkannya. Lebih jauh lagi, sewaktu menjadi ketua kaum muda sebuah gereja di Bogor, saya bahkan pernah mengundang seorang rektor dari sebuah sekolah tinggi Alkitab di Bandung yang mengarang buku tentang Penginjilan Pribadi untuk memberikan training khusus tentang penginjilan pribadi. Saya menganjurkan semua anggota kaum muda saya untuk melakukan Penginjilan Pribadi dan sayapun melakukannya juga. Bagaimanakah hasilnya?

Sampai sekarang ini, terus terang belum pernah ada jiwa yang saya menangkan dengan metode ini. Teman-teman sayapun tidak ada yang benar-benar berhasil membawa jiwa yang terhilang kepada Kristus dengan cara ini. Yang ada malah umpatan, sikap yang tidak bersahabat dari orang yang kita injili tadi.

Memang, untuk menghibur diri dari kegagalan itu, kami mengatakan bahwa firman Tuhan yang kami sampaikan pasti tidak akan kembali dengan sia-sia. Tapi kita harus ingat juga akan pengajaran Tuhan Yesus tentang "Perumpamaan tentang seorang Penabur" (Lukas 8:4-15). Tuhan mengatakan bahwa benih (yaitu Firman) bisa jatuh ke atas 4 jenis tanah (hati manusia) yaitu: jalan, tanah berbatu-batu, tanah bersemak duri dan tanah yang baik. Dengan penginjilan pribadi yang kita tujukan kepada orang yang tidak kita kenal, nampaknya benih yang kita taburkan akan jatuh ke jalan. Meskipun banyak benih yang kita tabur tapi kalau jatuhnya ke jalan, itu tidak akan bertumbuh. Saya pikir, lebih baik kita mencangkul dulu tanah yang akan kita tanam, dan baru kalau sudah siap kita taburkan benihnya. Menurut saya, inilah cara yang bijaksana.

---------------

  1. Cho, Kelompok Sel yang Berhasil, hal 58
  2. ibid., hal 58

[kembali ke daftar isi] [kembali ke cel-church articles] [kembali ke Homepage]