Suara Hidayatullah : Desember 1999 / Sya'ban-Ramadhan 1420  

Tanjung Balai Karimun
Las Vegas-nya Indonesia
Riau minta merdeka, atau minimal Otorita Batam diserahkan ke daerah. Bagaimana sebenarnya keadaan di sekitar Batam saat ini? Berikut laporan Sahid dari satu sisi Riau Kepulauan yang menyedihkan, hasil pantauan bulan lalu. Siapa berani menyikat praktek maksiat dan perjudian ini?

Siapapun yang baru pertama datang ke Tanjung Balai Karimun (TBK) niscaya akan terperanjat. Di dermaga bangunan hotel-botel berbintang dan tempat hiburan (amusement) menyambut, sesuatu yang tidak lumrah bagi sebuah kecamatan. Keluar dari dermaga, puluhan orang penjual jasa angkutan kota akan menyerbu. Bila hari telah merayap senja, tanpa basa-basi biasanya mereka akan langsung menyergap dengan pertanyaan, Mau ke mana Bang? Yang kelas ekonomi atau eksekutif?

Awas, hati-hati! Jangan salah sangka yang ditawarkan angkutan kelas ekonomi atau eksekutif. Maksud mereka, si penumpang akan diantar ke tempat-tempat hiburan atau lokalisasi. Saking populernya, sampai ada yang mengatakan bahwa TBK singkatan dari Tanpa Bawa Keluarga. Bisnis maksiat di sini sudah kelewatan, karena kaca mobilpun sampai ditempeli nomor telepon, yang siap mengantarkan `ayam' langsung ke tempat, stand-by 24 jam.

Bertandang ke kota ini serasa memasuki dunia lain, seperti tidak lagi berpijak di Indonesia yang, konon, amat beradab dan berbudaya Timur. Dalam tiap langkah selalu ada tempat hiburan, baik itu berupa pub, diskotik, karaoke, rumah bordil, tempat judi. Pembukaan tempat hiburan diumumkan secara berani seperti bunyi sebuah spanduk, `Peresmian Memory Pub 98'.

Melayu yang hilang

Tanjung Balai Karimun merupakan dataran yang menjorok ke laut atau sebuah tanjung. Dulu, tempat itu sering dipakai sebagai tempat persinggahan dan permusyawarahan raja-raja Melayu. Itulah sebabnya disebut balai. Sedangkan kata karimun (bahasa Melayu, red) kurang lebih berarti tempat pertemuan yang menyenangkan dan membahagiakan.

TBK merupakan gugusan pulau berjumlah sekitar 48 buah (yang dihuni cuma 15) dengan luas wilayah sekitar 275 m2. Di sebelah utara, secara geografis berbatasan dengan Singapura (berjarak sekitar 20 km), semenanjung Malaysia, dan selat Malaka yang menjadi jalur pelayaran internasional. Sebelah timur berbatasan dengan kota Batam, selatan dengan Kab Indragiri Hilir, dan di sisi barat berbatasan dengan beberapa kecamatan di Kab Pelalawan.

Dengan posisi seperti itu, TBK dinilai sangat strategis. Tak berlebihan kiranya bila kota yang 15 Oktober 1999 lalu resmi menjadi Kab Karimun ini dianggap sebagai hotline perdagangan dunia. Itulah sebabnya di kota kecil ini didirikan kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. “Karena daerah ini sangat rawan penyelundupan,” ujar M Nasir (40), salah seorang pegawai bea cukai. Barang yang diselundupkan bermacam-macam, dari kayu, tekstil, elektronik, kendaraan bermotor, sampai gadis-gadis ABG.

Sayang, banyak oknum petugas yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana mestinya. Akibatnya, masalah penyelundupan hingga saat ini tetap saja menjadi benang kusut. “Saya sering kena patroli. Cukup diberi 500 ribu rupiah, para petugas akan mempersilakan saya meneruskan perjalanan,” tutur salah seorang pedagang asal Bengkalis yang biasa menyelundupkan kendaraan bermotor dari Singapura.

Selain strategis, TBK juga tergolong kaya sumber daya alam, sehingga pendapatan asli daerah (PAD)-nya tahun lalu mencapai Rp 6 miliar. Investor berdatangan, termasuk kilang minyak yang diproyeksikan menjadi pusat distribusi minyak terbesar Asia Pasifik. Penggarapnya masih itu-itu juga, seperti Grup Salim dan Bukaka yang bekerja sama dengan Grup Sembawang Singapura. Grup Salim juga menggarap galangan kapal, yang pada tahun 1997 diresmikan `teman'-nya, Soeharto.

Munculnya industri membuat TBK dibanjiri pendatang. Kini jumlah warga resminya mendekati angka 83 ribu, alias bertambah 2,8% per tahun. TBK yang kecil seakan tak mampu mengimbangi perkembangan itu. Lahan terasa sempit karena berada pada dataran pantai. Jarak antarblok demikian rapat sehingga sulit diadakan pelebaran jalan. Pedagang kakilima bertebaran di setiap jalan kota yang begitu sempit. Kantong-kantong kemiskinan dan kawasan kumuh mulai bermunculan, beriringan dengan pembangunan hotel berbintang standar internasional —kini ada empat buah— dan tempat-tempat hiburan.

TBK yang dulu selalu dirindukan kaum bangsawan Melayu itu telah menjadi kota urban yang teramat pengap.

Bisnis hiburan

TBK sempat muncul dalam percaturan beberapa bulan lalu ketika terbongkar kasus penjualan sejumlah gadis ABG asal Jawa Barat. Mereka dijanjikan pekerjaan di Singapura, tetapi ternyata justru terdampar di TBK, tepatnya di sebuah tempat hiburan.

Dunia remang-remang memang telah menjadi trade mark TBK. Bila kota ini mulai diselimuti senja, bukannya tambah senyap, malah makin semarak. Hampir semua sudut dan gang-gang kota dipenuhi aktivitas maksiat. Dentuman musik pub berpadu dengan tawa cekikikan wanita penjaja cinta serta gemerincing koin jackpot. Sesekali terdengar celetuk dan suitan nakal pertanda ada beberapa ayam atau lontong (sebutan untuk PSK) melintas.

Di daerah Puakang atau Puake, ditambah Payalabu, Depsos setempat mencatat ada 1000-an pelacur resmi. Tetapi seperti biasa, data seperti itu tak pernah benar, alias cenderung menutupi. Surat kabar lokal, Sijori Pos mencatat, di Puakang saja ada lebih dari 1200 PSK. Puluhan rumah bordil di perkampungan yang jalannya sering becek itu berbaur dengan perumahan warga. Ada yang berkedok sebagai tempat hiburan, tapi yang lebih banyak malah terang-terangan memajang ayam. Hitungan Sijori Pos jumlah pelacur di TBK setara dengan 5% jumlah penduduk. Fantastis!

Over dosis pelaku maksiat ini mengakibatkan mereka sering `meluber' ke jalanan. Seorang bekas pekerja hotel yang sudah insyaf, Ikhwan (nama samaran) mengatakan, hal itu membuatnya muak bekerja di TBK. Ia yang dulunya suka judi dan berkelahi itu memang benar-benar memilih beralih profesi menjadi buruh pabrik.

Ikhwan juga mengisahkan, kehidupan malam di tempat-tempat itu sangat jauh dari kata beradab. Tiap malam ia menyaksikan permainan judi, orang mabuk, pergumulan lelaki-wanita, dan aktivitas maksiat lainnya. Narkotika dan obat-obatan terlarang begitu mudah dijumpai, lanjutnya.

Ayah 2 anak yang kini aktif pergi ke masjid ini pernah mencoba berdakwah. Biasanya, Ikhwan mendekati orang-orang atau PSK yang terlihat tengah gelisah. Ia berusaha menyadarkan dengan nasihat bahwa perbuatan itu berdosa, melanggar norma agama. Berat juga, sebab biasanya mereka akan dengan enteng berkomentar, “Kalau aku ikhlas kan nggak apa-apa!”

Pria yang pernah menggeluti profesi sebagai kasir, operator karaoke, waiters, dan room boy beberapa hotel berbintang ini juga terus menjaga shalatnya di tempat kerja. Maksudnya, agar rekan-rekan seprofesi mengikutinya. Hampir dua tahun ia lakukan itu secara intens, namun hanya satu orang yang bisa disadarkannya. Terakhir ada kabar bahwa rekannya itu mulai lagi menggeluti hiruk-pikuk kehidupan malam. “Lingkungan sudah seperti itu, mau bagaimana lagi?” wajah Ikhwan memperlihatkan ekspresi putus asa.

Selain bisnis syahwat, judi juga begitu akrab. Permainan jackpot, poker, cap jie kie, merupakan yang paling banyak dijumpai di TBK. Ini belum termasuk judi kelas pinggir jalan semacam remi dan permainan dadu yang biasa digeluti abang becak dan pedagang kakilima. “Hampir tiap rumah di daerah ini menjadi tempat judi, baik yang terang-terangan maupun terselubung,” ujar salah seorang warga yang enggan disebut namanya.

Dampak negatif

Kehadiran para PSK menjadi sumber masalah bagi masyarakat. Banyak kalangan muda dan remaja yang terseret gaya hidup para PSK, dalam hal berpakaian, gaya bicara, pergaulan, dsb. Bepergian dengan celana pendek dan kaus ketat sebatas pusar (bagi anak-anak perempuan) menjadi hal biasa. Dalam hal pakaian ini agak sulit membedakan antara PSK dengan wanita baik-baik, di kawasan pelosok sekalipun.

Pergaulan begitu bebas. Anak SLTP dan SLTA di sini, kalau tidak punya pacar akan dianggap mengidap kelainan. “Dia akan menjadi objek ejekan dan dikejar-kejar lawan jenis,” ujar Widodo (15), salah seorang siswa SMU.

Dengan gaya hidup semacam itu, menurut salah seorang guru Bimbingan dan Penyuluhan sebuah SMU, seringkali dijumpai siswa yang tengah asyik menenggak minuman keras, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, dan siswi yang hamil. “Sekarang yang paling marak adalah ecstasy,” ujar guru yang saat ini giat menyelenggarakan majelis taklim di sekolahnya itu.

“Beberapa apotek memang menjual bebas obat-obatan yang masuk dalam daftar G,” ujar dr HM Syamsurizal. Pemakaian obat semacam ini seharusnya dengan sepengetahuan dokter karena termasuk jenis obat keras. Bila mengkonsumsi tanpa kontrol akan sangat berbahaya bagi jaringan syaraf dan membuat konsumen fly. “Itu sebenarnya obat-obatan untuk orang gila,” tambah alumnus Univ Hasanuddin (Ujungpandang) yang praktik di Puskesmas TBK dan juga sebuah klinik ini.

Banyak orang baik-baik yang akhirnya kena dampaknya. Kalangan ibu rumah tangga adalah yang paling rentan. Dokter Syamsu menyatakan sering dibikin pusing pasien. Ada ibu rumah tangga yang kena penyakit kelamin gara-gara sang suami gemar jajan. Banyak pula pasien yang ingin KB, padahal belum punya anak. Dokter yang pernah aktif di lembaga dakwah kampus ini mengaku mengalami konflik batin antara tugas menolong orang dan menangani orang tak keruan. “Sampai saat ini saya tetap melayani mereka, tetapi jangan sampai meninggal sebelum sempat bertobat,” kata dokter yang aktif membina sebuah mushalla ini.

Camat TBK Suhadjar menyatakan, Pemda Riau tak pernah bertindak apa-apa, misalnya penertiban atau pembersihan. “Lho, kalau di sini mau dibersihkan, kenapa yang di Jakarta, pusat kekuasaan, tidak?” Suhadjar justru balik bertanya. Ia malah lebih setuju seandainya warga berinisiatif membasmi judi. Sebab, pada dasarnya, judi di sini semuanya ilegal.

Sikat saja!

Dua tahun lalu, bisnis judi sebenarnya pernah gulung tikar akibat dibasmi warga. Tetapi, para bandar judi (yang kebanyakan warga keturunan) lantas mendekati orang-orang asli TBK (Melayu) dengan iming-iming uang yang cukup menggiurkan. Banyak yang akhirnya terjebak, terutama tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang mempunyai massa. Judi marak lagi. Dalam tempo relatif singkat, permainan haram itu sudah berjalan seperti dua tahun lalu, bahkan lebih ramai.

“Saya beberapa kali disuap agar tak mengganggu bisnis itu,” tutur Haryanto, seorang warga. Menurutnya, tokoh-tokoh sudah kena suap semua, termasuk kalangan pers, sehingga berita-berita seputar TBK selalu bernada positif. Kampung-kampung yang menjadi arena perjudian malah dapat sumbangan sekitar Rp 68 juta per bulan. Bisa dibayangkan, bila sumbangannya sebesar itu, penghasilannya berapa? “Tetapi warga tak pernah merasakan sumbangan itu, entah nyangkut di mana,” masih kata Haryanto.

Berdasar pantauan Sahid, sebenarnya warga tidak menyukai perzinaan dan judi yang seringkali mengacaukan bahtera rumah tangga dan ekonomi keluarga masyarakat TBK. Membuat rusak semuanya. “Tetapi sampai saat ini kita tak bisa berbuat apa-apa karena orang-orang yang mempunyai pengaruh tak bereaksi,” tutur Ikhwan. “Kita tak punya daya apa-apa Bang,” kata warga yang lain.

Peran pemuka masyarakat dalam membasmi maksiat memang diperlukan, seperti yang sempat terjadi di Meral, sebuah perkampungan satelit di sebelah utara TBK. Awal Oktober lalu, sebuah arena judi jackpot habis dibakar warga. Tokoh masyarakat, terutama kalangan agamawan kampung itu mayoritas Muslim dan warga begitu kompak menolak perjudian. “Sudah berkali-kali kita peringatkan agar jangan membuka jackpot di sini. Karena para bandar itu bandel, ya kita bakar saja,” tutur seorang warga dengan penuh semangat. Arena judi itu baru saja buka di pagi hari, lantas malam harinya sudah musnah dilalap si jago merah. Ribuan koin jackpot akhirnya dimanfaatkan anak-anak kecil untuk mainan.

Namun kekompakan itu belum tercipta di seluruh TBK. Malah banyak bangunan lama yang terancam gusur untuk diubah menjadi tempat hiburan dan judi. Ada sebuah SD yang tinggal puing, juga mushalla yang siap dirobohkan. Dengan peningkatan status TBK sebagai kabupaten, diyakini para wisatawan hiburan yang datang juga meningkat. “Tolong sampaikan kepada Gus Dur agar dampak buruk ini diantisipasi. Pemerintah hendaknya membuat UU tentang perzinaan dan perjudian. Kalau sudah ada itu, kita akan bisa bertindak tegas,” ujar Camat Suhadjar.