YUSUF MENJADI MENTERI MESIR

    Dengan pengakuan para perempuan dan isteri pembesar itu sendiri bersihlah Nabi Yusuf dari segala sangka dan tuduhan selama ini. Bukan bersih semata-mata, tetapi malah bertambah baik namanya di kalangan masyarakat ramai, setelah setiap orang yang keluar dari penjara itu menerangkan dalam masyarakat akan sifat dan perangai Nabi Yusuf di dalam penjara. Atas segala keterangan ini, raja menjadi tertarik hatinya untuk memperkerjakan Yusuf di kalangannya sendiri, menjadi ajudan raja, lalu raja berkata kepadanya: “Berdasarkan apa yang aku ketahui tentang dirimu, budi-pekertimu, pemandangan dan pengetahuanmu, maka mulai hari ini engkau kuangkat menjadi aminku, menjadi orang kepercayaan tempat aku bertanya meminta nasihat-nasihat. Maka engkau mulai hari ini berkuasa atas kerajaan kita ini, engkau berkewajiban memperbaiki yang kurang baik dalam negara dan memajukannya menurut apa yang engkau rasa baik. Semuanya aku serahkan kepadamu untuk memutuskan dan mengendalikan-nya.
    Karena Yusuf sudah tahu apa yang akan terjadi sebagaimana bunyi takwil mimpi yang sudah ditakwilkannya itu, dimana akan datang masa makmur, maka Yusuf minta supaya kepadanya di-serahkan kementerian kemakmuran, ekonomi dan kewangan, karena Yusuf tahu bahwa makanan dan wanglah yang menjadi pokok pangkal keselamatan dan kesengsaraan sesuatu negara di atas dunia ini. Dia minta kedudukan-kedudukan itu kepada raja dengan keyakinan, bahawa dia dapat menghindarkan ummat dari kesengsaraan dan kelaparan yang akan datang itu.
    Permintaan Yusuf dipenuhi seluruhnya oleh raja. Dia menjadi seorang menteri yang berkuasa penuh. Demikianlah caranya Allah telah menempatkan Yusuf di tempat yang selayaknya, sesudah bertahun-tahun lamanya di dalam latihan dan training. Sekalipun ia bekas penghuni penjara tetapi semua perkataannya didengar dan diturut orang, segala aturan yang dibuatnya dapat dijalankan rakyat dengan patuhnya; dia menjadi buah bibir dan kecintaan rakyat yang diperintahnya, pula dicintai oleh raja-raja lain yang menjadi tetangga negaranya. Sekalipun sebelum ini dia pernah dipenjarakan, dibuang ke dalam telaga, diperjualbelikan dan sebagainya.
    Sudah tujuh tahun konon Nabi Yusuf memegang tampuk kekuasaan, menjalankan rencana politik dan kemakmurannya. Negeri Mesir menjadi bertambah-tambah makmur, rakyatnya semakin bertambah bersatu-padu, taat dan berdisiplin. Masa tujuh tahun itu dipergunakannya sebaik-baiknya untuk memperbanyak gandum simpanan, untuk menghadapi masa tujuh tahun yang panas dan terik, yang sengsara dan lapar itu.
    Masa tujuh tahun berikutnya itupun datanglah. Karena terik dan panasnya, tidak terdapat air mengalir, sehingga matilah semua binatang dan tanaman, maka melaratlah semua penduduk negeri. Tetapi karena persediaan yang cukup yang telah diselenggarakan oleh Yusuf selama tujuh tahun berturut turut, maka tidak seorangpun di antara rakyat Mesir yang mati kelaparan di musim meleset itu. Kesengsaraan dan kelaparan di kala itu bukan hanya menimpa negeri Mesir saja, tetapi menimpa pula negeri-negeri yang berdekatan dan bertetangga dengan Mesir sampai ke Kan’an, dimana bertempat tinggal Nabi Ya’akub dengan anak anaknya yang dinamakan Asbat itu. Kesihatan perekonomian Mesir di saat yang berbahaya itu dikenal oleh negara negara yang bertetangga dengan Mesir. Orang orang pun sudah sama mengerti bahwa Mesir dipimpin oleh seorang Menteri yang amat pintar, yang adil dan berbudi paling tinggi. Kerana itu, bangsa bangsa dan negara negara yang terletak di sekitar Mesir itu sekalipun berlainan bangsa dan warna kulit, tidak malu malu datang minta pertolongan ke Mesir untuk mengatasi kesengsaraan rakyat di negaranya masing masing.
    Pada suatu hari Nabi Ya’akub yang sudah sangat tua dan buta matanya itu berkata kepada anak anaknya: “Hai anak anakku, kesengsaraan ini akan menimpa diri kita pula. Sebab itu cubalah kamu pergi, beri pelanalah unta untamu itu, pergilah menuju ke negeri Mesir, dimana sekarang ini berkuasa seorang yang paling adil dan baik, namanya masyhur ke mana-mana. Karena kebijaksanaannya, Mesir tetap tidak kelaparan dan tetap makmur. Cubalah minta pertolongan kepada pembesar yang adil berbudi itu. Tetapi janganlah kamu pergi dengan membawa Bunyamin. Biarlah dia tinggal bersamaku di rumah. Kalau tidak begitu dengan siapakah aku akan berhibur sedih sepeninggal kamu sekalian, menjelang kamu kembali. Aku doakan mudah mudahan kamu selamat dalam perjalanan, dilindungi oleh Allah dan ditunjukiNya pula jalan yang lurus.
    Pada suatu hari, penjaga pintu kamar kerja Yusuf mengetuk pintu, lalu masuk dan berkata kepada Yusuf: “Di luar ada sepuluh orang lelaki, yang tampak persamaan keadaan mereka dan tampak dari wajah mereka bahawa kedatangannya itu bukan dengan niat yang kurang baik. Mereka tampaknya asing di negeri kita ini, berlaku sebagai tetamu dari jauh. Itu terbayang dari bahasa dan gerak gerinya sebagai orang baru yang agak kehairanan. Mereka minta izin masuk, ingin bertemu dengan engkau, hendak mengemukakan hal hal yang mereka bawa berhadapan mata dengan engkau.” Setelah Yusuf memberi izin, mereka lalu masuk. Semuanya adalah saudara-saudara Yusuf sendiri, anak anak Nabi Ya’akub yang diperintahkan bapanya datang ke Mesir, untuk minta bantuan bahan makanan. Sebagai seorang yang kuat ingatannya, bijaksana dan pintar,
    Yusuf tidak lupa kepada mereka. Untuk kebaikan dan kelancaran urusan yang menyebabkan kedatangan mereka itu, Yusuf mendiamkan apa apa yang sudah diketahuinya itu terhadap mereka. Sedang mereka rupanya tidak sedikitpun mengira, bahwa yang mereka hadapi itu adalah saudaranya, yang dahulu pernah mereka buang ke dalam telaga Jub.
    Yusuf menyambut mereka dengan sebaik baik sambutan dan diperlakukannya sebagai tetamu yang istimewa dan terhormat. Mereka dipersilakan duduk di tempat yang ditentukan, karena Yusuf ingin mendengar berita berita penting dari mereka, mahu mengetahui keadaan mereka sekarang ini.
    Sekarang mereka sudah duduk bersama di sekitar Nabi Yusuf, Yusuf mulai bertanyakan ini dan itu: “Kamu sekalian sudah saya sambut sebagai tamu yang harus kuhormati dan menjadi haklah bagiku terlebih dahulu untuk bertanyakan sesuatu hal tentang keadaanmu dan maksud kedatanganmu ke mari. Saya ingin tahu lebih dahulu siapakah sebenarnya saudara-saudara ini semua?”
    Salah seorang di antaranya menjawab: “Ya, Tuanku yang budiman ! Kami ini semuanya bersaudara. Yang sebenarnya saudara saudara kami berjumlah duabelas orang, semuanya keturunan Nabi yang mulia, Rasul yang besar. Sepuluh orang di antaranya kami yang duabelas bersaudara itu, diutus oleh Nabi mulia iaitu bapak kami, untuk menghadap Tuan ke mari. Cita cita kami semuanya bergantung pada diri Tuan seorang. Adapun saudara kami yang kesebelas, kami tinggalkan bersama orang tua kami, untuk mengurus keperluan bapa kami yang sudah tua dan mengurus rakyat beliau yang kami tinggalkan. Mengenai saudara kami yang keduabelas, sudah lama tidak lagi di samping kami. Kami tidak mengetahui, apakah dia sudah diangkat Tuhan ke rahmatNya, ataukah dia masih melayarkan bahtera hidupnya dibumi luas ini, semua itu tidaklah kami ketahui. Demikianlah keadaan kami yang sebenarnya.”
    Berkata pula Yusuf: “Saya percaya segala yang kamu kemukakan itu benar semuanya. Sungguhpun begitu, kebenaran sesuatu keterangan itu kurang jelas bila tidak ada bukti yang nyata dan dapat dilihat oleh mata. Untuk menenangkan hati saya, saya minta dari kamu sekalian saksi dan bukti kebenaran dari apa yang kamu ceritakan itu. Bukankah kamu mengatakan tadi bahawa kamu bersaudara sebelas orang banyaknya. Cubalah bawa ke hadapan saya yang seorang lagi, karena yang ada sekarang ini hanya sepuluh orang saja.”
    Jawab mereka: “Ya, Tuanku ! Kami di sini jauh sekali dari kampung halaman kami, jauh dari famili dan kawan kawan kami. Tak begitu mudah kami membawa seseorang saksi dari kampung kami, apalagi kami sudah kekurangan perbekalan untuk pulang dan kembalinya.”
    Jawab Nabi Yusuf: “Saya akan menyediakan perlengkapan dan perbekalan bagimu secukupnya. Agar kamu kembali ke kampungmu selekas mungkin, bawalah ke mari saudaramu yang masih ketinggalan itu, cukuplah dia seorang untuk menjadi saksi dan bukti atas kebenaran apa yang kamu katakan tadi. Bila kamu kembali bersama dia ke mari, saya akan menyambutmu lebih gembira dari sekarang ini dan akan saya lipat-gandakan barang perlengkapan dan perlengkapan kamu. Hanya inilah syarat dan permintaanku dan hanya ini pulalah janjiku terhadapmu. Tetapi bila kamu tidak membawa dia ke mari, jangan diharapkan bahawa permintaanmu akan kukabulkan dan tidak ada gunanya kedatanganmu kembali nanti.”
    Mereka menjawab pula: “Kami sangsi bahwa bapa kami tidak dapat mengizinkan saudara kami yang seorang itu dibawa ke mari, kami sangsi pula apakah beliau cukup bersabar hati berpisah dengan adik kami itu. Tetapi baiklah akan kami cuba membawanya dengan keterangan-keterangan yang dapat beliau percayai dan semua itu akan kami jalankan insya Allah.” Yusuf lalu memerintahkan kepada orang-orang bawahannya untuk menyediakan perbekalan dan perlengkapan mereka itu. Diberinya bekal yang jauh lebih banyak dan bekal tersebut bukan saja merupakan bahan makanan sebagai yang diminta mereka, tetapi ditambah dengan emas perak untuk mereka perjual belikan, agar mereka benar benar kembali ke tempat ini lagi dengan harapan yang tidak kosong. Mereka segera bertolak kembali ke negerinya dengan perasaan lega, disebabkan sambutan sambutan Yusuf yang sangat memuaskan yang menjadikan kenang kenangan mereka, dengan memperoleh buah tangan dan tandamata yang sangat berharga.
    Setiba di negerinya, segera mereka menemui bapaknya, menceritakan pengalaman pengalaman dan apa apa yang sudah berlaku antara mereka dengan pembesar Mesir itu dengan berkata: “Kami sudah menemui pembesar itu, ya bapak, rupanya dia adalah seorang yang sangat baik, seorang menteri yang murah hati, dimuliakannya kedatangan kami, ditanyakannya hal ihwal kami, diberinya kami tempat sebaik baiknya, dilengkapinya kami dengan perbekalan-perbekalan yang banyak dan hadiah hadiah yang berharga. Hanya saja ada sebuah syarat yang dimintanya dari kami, iaitu bahwa dia tidak akan memberi bahagian apa apa lagi kepada kami dan tidak akan mempercayai kami, sebelum kami datang kembali kepadanya sambil membawa saudara kami kesebelas yang ditinggalkan bersama bapa. Sebab katanya kalau bukti itu ternyata tidak dapat kami tunjukkan kepadanya, dia tidak percaya akan kebenaran kata kata kami itu. Oleh kerana itu izinkanlah adik Bunyamin dibawa oleh kami esok hari ke Mesir dan akan kami jamin keselamatannya, tidak akan kami sia siakan lagi. Dengan kedatangan kami bersama dia nanti, akan menambah berhasilnya atas kedatangan kami itu. Percayalah bapa kepada kami.” Dengan mengeluh Nabi Ya’akub benkata kepada meneka:
    “Tak sanggup lagi aku mengizinkan dia pergi bersamamu. Aku tak sanggup berpisah dengan dia. Masih ingatkah kamu sekalian, apa yang tenjadi dengan Yusuf dahulu? Janganlah kamu coba memperdayakanku yang kedua kalinya lagi, cukuplah sudah sekali itu saja aku ditipu olehmu.”
    Mendengar jawapan itu, lalu mereka membuka semua bungkusan pembawaan mereka. Dikeluarkannya dari bungkusan bungkusan itu emas dan perak. Kesemuanya mereka serahkan kepada bapanya sambil berkata: “Bapa, kami tidak berbohong, inilah buktinya atas perkataan kami yang sesungguhnya, kami benar benar telah bertemu dengan Pembesar Mesir yang kenamaan itu. Bagaimana benarnya ucapan kami tentang hal ini, begitu pula besarnya tentang syarat yang diminta oleh pembesar itu. Percayalah bapa, izinkanlah dia bersama kami besok. Kalau kami tidak kembali lagi bersamanya, kami akan tebusi dengan jiwa kami sekalian.”
    Setelah Ya’akub melihat bukti bukti kebenaran apa yang mereka katakan itu, Ya’akub mulai sedikit percaya kepada mereka dan merasakan sendiri akan syarat yang diberikan oleh Pembesar Mesir itu. Akhirnya Ya’akub mengabulkan penmintaannya dengan mengizinkan Bunyamin turut serta dalam penjalanan itu, tetapi dengan penjanjian dan ikrar yang keras: “Dia harus kembali dengan sihat wal’afiat, kalau tidak, kamu akan menerima takdir yang tidak dapat direkakan hebatnya dan kamu tidak akan diakui sebagai anakku lagi.”
    Setelah mereka semuanya menerima baik segala janji dan ikrar itu dengan bersumpah dan mempertaruhkan keimanan mereka, lalu berkata: “Tuhan menjadi saksi atas segala yang kami katakan itu.”
    Mereka berangkat bersama adiknya yang diminta oleh Yusuf supaya dibawa. Setelah berjalan jauh, menurun dan mendaki berhari dan bermalam, akhirnya sampailah mereka di tempat yang dituju, lalu minta izin masuk untuk bentemu dengan Yusuf. Baru saja Yusuf melihat akan saudaranya sendiri turut serta, bukan main ghairatnya untuk memeluk dan menciumi saudaranya itu, tetapi seluruh perasaannya disembunyikan saja, Mereka itu dipanggil untuk dijamui bersama sama dan diaturnya duduk berdua dua. Kerana mereka berjumlah sebelas orang, maka tinggallah Bunyamin duduk menyendiri. Melihat dia duduk sendiri itu, Bunyamin lalu mengenangkan nasibnya yang malang itu, seraya menangis tersedu sedu dan berkata dengan suara yang gugup-sayup terdengar:
    “Kalau Yusuf masih ada, tentu dialah yang duduk di sampingku sekarang ini.”
    Melihat itu Yusuf lalu tampil dan menjadi teman bagi Bunyamin. Rumah tempat tinggal pun disediakan sebuah rumah untuk dua orang dan Yusuf pulalah yang tinggal bersama Bunyamin. Yusuf serumah dan bermalam dengan adiknya. Yusuf lalu bercakap cakap dengan adiknya yang dicintainya itu: “Sukakah engkau menjadikan saya sebagai ganti saudaramu yang telah meninggal itu ?“
    Bunyamin menjawab: “Memang tidak ada orang yang lebih baik dari Tuan sendiri. Namun sayang, Tuan bukan dianakkan oleh Ya’akub dan bunda Rahil.”
    Mendengar jawaban adiknya itu, Yusuf tidak dapat menahan airmatanya, lalu menangis tersedu sedu sambil berdiri dan mencium adiknya, ia berkata membukakan rahsianya: “Aku ini adalah saudaramu yang selama ini engkau sebut sebut dan kau rindukan. Akulah Yusuf saudaramu itu. Aku sudah mengalami banyak pengalaman kerana buah perbuatan saudara-saudara kita. Banyak pengalamanku yang sedih sedih dan pahit pahit. Aku pernah ditimpa fitnah yang paling berat. Tetapi itu semua kulawan dengan kesabaran dan ketetapan hati, sambil berjuang mengatasinya atas cubaan cubaan itu. Akhirnya Allah menunjukkan jalan bagiku, sehingga yang sengsara kini menjadi kaya, yang pernah difitnah sekarang menjadi orang yang berkuasa. Tetapi hal ini sekali kali janganlah engkau ceritakan kepada saudara saudara kita untuk sementara waktu. Tutuplah dahulu rahsia ini serapat-rapatnya terhadap mereka.”
    Tidak dapat diterangkan bagaimana perasaan Binyamin pada waktu itu setelah mengetahui bahwa yang bercerita itu adalah Yusuf saudaranya. Begitu pula perasaan Yusuf sendiri   !
    Beberapa hari sudah berlalu dengan tenang, Mereka sudah sampai waktunya untuk kembali ke negerinya. Tetapi Yusuf ingin membuat sesuatu yang agak menggemparkan terhadap mereka. Setelah semua perbekalan dan alat alat yang diperlukan dalam penjalanan itu disediakan, begitu pula buah tangan untuk dibawa pulang, lalu Yusuf memerintahkan kepada seorang suruhannya, agar ke dalam barang barang yang akan dibawa oleh Bunyamin, dimasukkan dengan diam diam sebuah timbangan kepunyaan negara. Baru saja mereka berangkat keluar dari Kota Mesir, tiba tiba mereka ditahan orang dengan berkata:
    “Berhenti dan turun semua, kamu ini adalah pencuri semua. Alangkah terkejut dan gemparnya mereka mendengar tuduhan seberat itu: “Apakah maksudmu menuduh kami, kami ini bukan pencuri sebagai yang kamu tuduh itu. Barang apakah yang sudah kami curi dari kamu?”
    Orang itu menjawab: “Kami kehilangan timbangan (cupak) kepunyaan raja, dan kami mempunyai persangkaan, bahawa kamulah yang telah mengambilnya. Sebab itu kalian kami tahan dan kami berkuasa untuk menahanmu.”
    “Demi Allah kami datang ke mari bukan untuk merusak dan mencuri,” jawab saudara-saudana Yusuf.
    “Kita tak usah bertengkar panjang-panjang, izinkan saja kami memeriksa segala bungkusan yang kamu bawa ini. Hukuman apakah yang akan kamu jalankan nanti, bilamana barang itu ter-dapat dalam bungkusanmu?” kata orang itu lagi.  Jawab saudara saudara Yusuf:
    “Kami ini adalah orang orang yang mempunyai undang undang, mempunyai agama pula. Menurut undang undang dan agama kami, bila seseorang kedapatan mencuni, dia harus ditawan dan boleh dijadikan budak oleh orang yang mempunyai barang itu. Inilah undang undang negeri kami yang selalu kami patuhi dan tunduk kepadanya. Tetapi kami yakin bahwa kami tidak mencuri apa apa.”
    Akhirnya perkara tersebut dibawa ke hadapan Yusuf, untuk mempersaksikan janji janji yang telah dikemukakan mereka sebagai orang orang terdakwa. Tiap bungkusan diperiksa dengan teliti, seorang demi seorang. Tidak seorang pun di antara sepuluh orang pertama yang membawa barang curian itu. Sekarang tibalah giliran Bunyamin untuk diperiksa segala bungkusannya, iaitu pemeriksaan yang penghabisan. Baru saja bungkusan Bunyamin dibuka, terdapatlah di situ cupak (timbangan) yang dikatakan hilang itu. Cupak itupun segera dipertontonkan kepada mereka. Alangkah terkejut dan terperanjat mereka, malu yang tak dapat terkatakan besarnya.
    Yusuf lalu berkata kepada mereka: “Sekarang kita tinggal menjalankan undang-undang dan memenuhijanji yang sudah kamu ucapkan tadi. Orang yang bersalah kami tahan dan memang sudah menjadi hak bagi kami untuk menahannya." “Ya, Tuanku,” keluh mereka. “Bapanya sudah sangat tua, sudah melewati dua usia (lapanpuluh tahun lebih), bapanya sungguh berat berpisah dengannya. Ia diizinkan dibawa oleh kami ke mari hanya untuk kali ini saja, guna memenuhi permintaan Tuanku atas kebenaran kami, namun dengan perjanjian bahawa ia harus bersama kami bilamana kami pulang kembali. Kami ini semuanya berjumlah sepuluh orang. Ambillah oleh Tuanku salah seorang di antara kami untuk menggantikannya dan kami percaya bahwa Tuanku adalah orang yang sangat baik hati.”
    Berkata pula Yusuf: “Kami berlindung kepada Allah, bahwa kami tidak akan menahan orang yang tidak mengambil barang kami, sebab kalau demikian halnya, berarti kami orang aniaya.”
    Dengan meneteskan airmata, mereka meminta agar Bunyamin dapat dibawa pulang akan tetapi permintaan tidak dapat dikabulkan. Akhirnya mereka sama berputusasa untuk memperoleh Binyamin kembali. Berkatalah ketika itu seorang yang terbesar di antara mereka, yaitu Yahuza: “Kita sekalian sudah bersumpah terhadap bapak kita, bahwa Bunyamin pasti pulang dengan selamat, tetapi sekarang tennyata Bunyamin tertinggal, apakah daya kita? Apakah kita dahulu sudah menghilangkan Yusuf dari bapak dan ketika itupun kita sama sama bersumpah pula.
    “Hati bapak yang luka dan sedih karena hilangnya Yusuf belum sembuh, airmata bapak setiap harinya masih terus mengalir. Kita telah berdosa besar terhadap Yusuf dan dosa itu kita ulangi lagi terhadap Bunyamin.
    “Saya benjanji bahwa saya tidak akan meninggalkan negeri ini, hingga bapa saya memberi izin untuk kembali atau Allah menjatuhkan hukuman atas diri saya, karena Allah adalah sebaik-baik pemberi hukum.
    “Sebab itu pulanglah engkau sekalian tinggalkan saya dan katakan kepada bapak nanti, bahwa Binyamin telah mencuri, te tapi kita sendiri tidak melihat bahwa dia mencuri dan apa yang sebenar-nya tersembunyi dalam hal ini kita tidak mengetahuinya. Baiklah bapa supaya menanyakan kepada orang orang di bumi tempat kita berpijak di situ dan orang orang di kafilah yang berada di hadapan kita ketika itu, semuanya akan menjadi saksi bahwa per-kataan kita itu benar.”
    Mereka kesembilan orang pun pulanglah menuju kampung halamannya, sedang Yahuza sengaja tinggal di Mesir, begitupun Bunyamin ditawan oleh pembesar Yusuf.
    Baru saja Ya’akub melihat bahwa Bunyamin tidak pulang bersama mereka, hatinya rasa disayat untuk kedua kalinya, bercampur geram yang tak dapat dibayangkan. Lalu ia bertanya: “Apa pula yang kamu lakukan atas diri saudanamu? Mana sumpah dan janji yang sudah kamu ucapkan itu? Cuba ceritakan apa kejadian yang sebenarnya !“
    Semua kejadian itu mereka ceritakan. Ya’akub lalu memalingkan muka menyisihkan diri menuju ke dalam kamarnya bersembunyi diri dan berkata: “Hal itu sudah terjadi pula, maka sabar pulalah yang lebih baik, karena hanya Allahlah yang dapat menolong atas semua apa yang diceritakan itu.
    “Mula mula aku kehilangan Yusuf, sekarang kehilangan Bunyamin dan Yahuza pula. Mudah mudahan Allah akan mendatangkan mereka yang telah hilang itu bersama sama, karena Tuhan Allah Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan Maha Pintar.”